Yang namanya iman itu, artinya meyakini sesuatu yang bisa jadi tidak teridentifikasi oleh indra, tapi bisa sangat kita rasakan kehadirannya.
Iman kepada Tuhan, Ke Rasulan Muhammad, Kesucian Al-quran, dan sebagainya, bisa jadi tidak terjamah oleh indera, tapi bukankah adanya semesta, dan mu’jizat serta kabar yang dibawa Al-quran itu telah memberi bukti kepada kita sehingga kita bisa dengan “mudah” mengimaninya??
Beda hal-nya dengan alam akhirat, hari kiamat, syurga dan neraka, atau siksa kubur itu semua tidak bisa terjamah oleh indera, dan tidak bisa kita rasakan keberadaannya sama sekali. Karena yang mati toh tidak bisa hidup kembali dan menceritakan pengalamannya.
Maka itu Al-quran biasa menggunakan redaksi “Yuuqinuun” (Meyakini) untuk mengungkapkan keimanan kepada hal-hal diatas. “Yuuqinuun” itu ternyata punya makna yang lebih mendalam dari sekedar “Yu’minuun” (mengimani), karena “yuuqinuun” itu meyakini sesuatu yang tidak dapat diindera, dan tentu saja juga tidak dapat kita rasakan sama sekali, dan kita diminta mempercayainya.
Maka itu, sebenarnya untuk “membuktikan” apa yang kita yakini tanpa bukti itu, adalah melakukan kebajikan itu sendiri, dengan sebuah kesimpulan singkat, kalau seandainya akhirat tidak ada, setidaknya saya menyimpan kebaikan itu untuk diri saya dan anak cucu saya…wallahu a’lam…



























