Penyebutan sebuah istilah kadang membuat otak pendengarnya berfikir beda dengan pengucapnya. Saya dulu pernah jadi MC di salah satu kantor provinsi di Indonesia. Di situ dihadiri bapak assisten daerah (asda) 3 “di provinsi itu. Lalu karena untuk menggambarkan kesopanan maja saya pun mengundang beliau untuk naik keatas panggung seperti berikut…
“kepada yang kami hormati bapak asda ke tiga, waktu dan tempat kami haturkan”
Cukup sopan bukan bahasa saya ketika mengundang? Tapi ternyata setelah acara, saya diberi peringatan oleh atasan saya. Karena ternyata saya salah sebut. Kalau ASDA KE 3, berarti ASDA di provinsi itu ada 3 level, yaitu level 1,2 dan 3. Sedangkan yang dimaksud di acara itu adalah bapak asda 3.
Artinya ada tiga asda dengan level yang sama. Dan beliau terlihat kurang suka dengan dipanggilnya beliau dengan “bapak asda ke tiga”. Karena mungkin perasaan beliau ada dilevel paling rendah diantara asda yang lain. Wah gara gara awalan “ke” saja sampai seperti itu ya…..
Tapi semenjak itu saya sadar, konsekwensi untuk tidak mengatakan sebagaimana protokoler kantor gubernuran ya begitu itu, di ingetin deh. Lalu ada salah penyebutan apa dengan Gontor 2,gontor 3, gontor empat dan seterusnya? Terus kenapa harus ada ucapan selamat tinggal segala? Apa ada masalah dengan gontor selain gontor pusat ini? Anak saya yang sekolah di gontor 2, gontor 3, gontor 4 dan seterusnya bagaimana?
Tenang bapak ibu sekalian. Tidak ada apa apa dengan gontor gontor di atas. Semua masih dibawah kendali pengawasan pimpinan. Ini cuma masalah penyebutan saja kok, biar kita lebih enak ngomonginnya. Dan saya setuju ini..
Dulu penyebutan gontor selain kampus pusat menmang mengesankan sesuatu yang terpisah dari pusat. Seakan dengan menyebut gontor 3 daarul ma’rifat maka berkesan gontor 3 diluar kebijakan gontor pusat. Sampai dulu ada yang tidak mau disebut alumni gontor, tapi alumni daaarul ma’rifat. He… He…. Wah parah juga fanatisme sempit gini ya.
Lalu saya coba terangkan kalau penempatan di pondok cabang ini adalah kebijakan pimpinan. Dan semua fasilitas yang diberikan sama dengan gontor pusat. (lengkapnya baca judul artikel saya “sudah ikhlaskah kita?”) tapi kesan bahwa gontor pusat dan selain itu beda masih saya muncul. Betapa bangganya punya putra di gontor pusat, dan betapa “terbuangnya” yang puteranya selain di gontor pusat. Ini sudah di jelaskan oleh teman saya juga. Tapi kesan itu madih saja ada. Mungkin karena penyebutannya gontor 2, gontor 3, gontor 4, dan seterusnya itulah yang mungkin menyebabkan kesan itu.
Sampai hari kemarin saya mendapat kabar yang menggembirakan. Bahwa penyebutan gontor 2,gontor 3, gontor 4 sampai akhir sudah di hapus. Maka itu saya ucapkan selamat tinggal… Lalu di ganti apa penyebutanya?
Gontor kampus 2,gontor kampus 3, gontor kampus 4,sampai akhir. Dengan begitu kesan yang mendengar pasti
“Alhamdulillah anak saya diterima di Gontor, tapi penempatannya di kampus 3”.
Nah lebih mudah bukan telinga kita mendengarnya? Selain itu, kesan pendengarnya adalah gontor 1,2,3,sampai akhir itu adalah satu kesatuan. Bukan berbeda pondok. Tapi satu pondok cuma beda lokasi kampusnya. Alumninya tetap alumni gontor, ijasahnya tetap ijasah gontor, ditanda tangani oleh pimpinan gontor, buku2nya juga persis dengan gontor pusat, sekali lagi cuman lokasi kampusnya yang berbeda.
Akhirnya saya kembali mendapat pelajaran. Bahwa selain gontor pusat itu. Jauh lebih mudah diterima wali santri kalau disebut gontor kampus 2,3,4…..dst. Sebagaimana pak asda 3 pada cerita saya diatas jauh lebih menerima disebut pak asda 3 daripada bapak asda ke tiga. Ya meskipun salah saya juga sih menyebut beliau.



























