Home Hikmah Para Pencari Jama’ah

Para Pencari Jama’ah

207
0
SHARE

Suatu saat, ketika saya di Indonesia, saya masuk ke sebuah masjid, jamaah dhuhur sudah bubar, terlambat. Saat itu Saya berdua dengan teman, kami mendirikan jamaah dhuhur baru. Sampai 4 rakaat kami selesai shalat, tak ada satupun orang yang mau ikutan berjamaah, bukan karena tidak ada orang, tapi masing-masing shalat sendiri-sendiri.

Tidak jauh di pojokan masjid, ada beberapa orang mendirikan jamaah baru, sudah rakaat kedua, itu artinya mereka mendirikan jamaah baru ketika Kami masuk ke rakaat terakhir, seharusnya tidak boleh ada dua jamaah dalam satu masjid dan di satu waktu, itu jelas-jelas melanggar sunnah. Anehnya, mereka belum selesai, orang-orang yang masuk hanya melihat saja ada jamaah itu, tapi mereka memilih shalat sendiri.

Dulu, puluhan tahun lalu, masjid bani Umayyah di Damascus memiliki 4 mihrab untuk imam. Mihrab untuk pengikut mazhab Maliki, pengikut mazhab Syafii, pengikut mazhab Hanafi dan mihrab untuk pengikut mazhab Hambali. Siapa yang terakhir datang menunggu jamaah yang sudah ada selesai baru mereka mendirikan jamaah shalat baru.

Sampai hari ini, mihrab itu masih terlihat, namun tidak berfungsi lagi seperti asalnya. Itu dulu karena konflik ketegangan antar mazhab, mereka berangggapan mazhab merekalah yang paling benar, kebodohan sampai sejauh itu, sampai pengikut mazhab hanafi menganggap tidak sah ikut berjamaah mengikuti imam bermazhab maliki, dan seterusnya. Namun, hari ini tidak ada lagi fenomena demikian. Berkat perjuangan ulama-ulama yang berhasil melebur mazhab itu menjadi sebuah keharmonisan, karena perbedaan yang terjadi antara mazhab itu hanya karena perbedaan pemahaman saja.

Kalau ada pengikut mazhab syafii tidak mau ikut jamaah shalat karena imamnya bermazhab maliki, karena tidak sah! ini adalah deklarasi tidak langsung bahwa shalat imam maliki tidak sah! Ini adalah sebuah tindakan bodoh, sedangkan imam syafii sendiri murid imam malik, kalau demikian itu artinya shalat mereka semua tidak sah!

Saat aku duduk di masjid itu aku sempat berpikiran demikian, tapi setelah ku timbang-timbang, ini tidak mungkin, mana ada orang indonesia terpecah dalam ibadah berjamaah sejauh itu, mana mungkin mereka tau kalau aku bermazhab hanafi, sehingga mereka yang bermazhab syafii tidak mau ikut saat aku jadi imam. Terus, yang lainnya shalat sendiri-sendiri?a da 10 orang shalat sendiri-sendiri, apa ada 10 mazhab lain yang mereka anut? Ini tidak mungkin, jadi harus ku cari alasan lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here