Home Ekonomi Gontor dan Ekonomi Protektif

Gontor dan Ekonomi Protektif

SHARE

Gontor dan Ekonomi Protektif

“Kalian ini mau nuruti kata hati atau nuruti kata orang?? Kalau nuruti kata hati, jangan pedulikan kata orang. Sebab orang itu kita bergerak kemanapun pasti dikomentari. Saya dulu buka UKK (koperasi Guru) dan KUK (Toko besi pesantren) dan Toko Buku saja habis-habisan dikomentari, dibilang Kyai Bisnis, Kyai Mata duitan, Kyai Matre, tapi saya jalan terus. Sekarang semua baru terbuka, pada ramai-ramai ikut-ikutan buka Usaha. Saya tahu bahwa Pesantren ini butuh biaya, utamanya untuk kesejahteraan Guru. Tapi bagaimana biar ini tidak membebani santri, kesejahteraan Guru tidak boleh dimabilkan dari dana santri. Kenapa? Biar para santri tidak berkata “Kamu kan sudah saya bayar….!!” Ini yang ingin saya hindari, maka saya buat Unit-Unit Usaha yang saat ini mencapai 23 buah. Itu semua untuk kesejahteraan guru…

Dulu saya banyak dimusuhi oleh orang yang sya tertibkan setoranya ke kantin. Karena dia itu cuma diminta setor oleh Guru yang sekarang guru itu sudah wafat. Mengajar di Pondok tidak, istrinya kerja di pondok juga tidak, bahakan anaknya saja tidak sekolah di Gontor.Lalu minta fasiitas setoran seperti Guru-guru Gontor yang sudah berjuang untuk Gontor. Ini diprotes saya dulu, dikoentarin macam-macam. Tapi saya jalan terus, keluarga Gontor adalah orang yang sudah berushaha membantu Gontor, ini yang harus kita fikirkan kesejahteraanya….

Maka jangan dengarkan kata orang jika ingin maju. Bagus atau jelek, jalani saja. Kalau jelek ya dievaluasi ditengah jalan. Sebab dengerin kata orang itu ndak ada habisnya. Bahkan kita tidak bergerak sekalipun, itu tetap akan dikomentari, ini orang masih hidup atau sudah mati, kok Cuma diam saja gerakannya. Maka itu, ikuti kata hatimu. Kata Rasulullah “Istafti Qalbak”, Gontor sudah kenyang dicaci maki, Gontor juga sudah kenyang dipuji-puji…..!!”

*****

Terngiang kembali nasehat Kyai Syukri itu ditelinga saya siang ini. Mengingatkan saya kepada konsep Ekonomi Protekstif yang dijalankan Gontor. Para santri dilarang beli diluar Toko Pesantren, untuk apa? Para santri dilarang jajan kecuali di kantin pesantren, untuk apa? Para santri dilarang langsung menyetir Loundry kepada masyarakat kecuali kepada Bagian Loundry pesantren, untuk apa? Para santri dilarang pesan baju dan kaos diluar harus kepada perusahaan konveksi pesantren, untuk apa? Padahal diluar belanjanya lebih murah, lebih lengkap, makannya mungkin lebih enak, tapi kenapa semuanya harus serba di pesantren?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here