Kami pergi mengunjungi keluarganya. Ternyata rumah itu tampak kuno dan sederhana. Nampak jelas ada tanda-tanda kemiskinan di sana. Kami mengetuk pintu rumah tersebut dan yang membukakan pintu adalah kakak laki-lakinya yang tertua, ia seorang pemuda yang kekar otot-ototnya. Istriku gembira dapat bertemu dengan kakaknya, ia membuka wajahnya dan tersenyum serta mengucapkan selamat berjumpa!
Adapun sang kakak -ketika pertama kali melihat adiknya-wajahnya terlihat gembira dengan kepulangannya yang selamat tapi bercampur heran karena pakaiannya yang hitam dan menutup semuanya itu.
Istriku masuk sambil tersenyum dan memeluk saudaranya. Aku pun ikut masuk di belakangnyadan duduk di ruang tamu, aku duduk seorang diri.
Adapun dia, terus masuk ke dalam rumah. Aku mendengar mereka berbicara dengan bahasa Rusia. Aku tidak faham sama-sekali, tetapi aku perhatikan nada suara mereka semakin meninggi dan keras!! Logatnya pun berubah!! Teriakan mulai meninggi!!… Tiba-tiba mereka semua meneriaki istriku, sementara ia membela diri dan menyanggah perkataan mereka.
Aku merasa ada hal yang tidak baik dalam urusan ini, tetapi aku tidak bisa memastikannya karena aku tidak faham sedikitpun dari pembicaraan mereka. Tiba-tiba suara mereka semakin mendekat ke ruangan tamu –dimana aku berada di situ- kemudian keluarlah tiga orang pemuda dipimpinoleh seorang yang agak tua menemuiku.
Padamulanya aku menduga bahwa mereka akanmenyambut kedatangan suami dari anak mereka! Ternyata mereka menyerangku seperti binatang buas. Tiba-tiba sambutan berubah menjadi pukulan-pukulan dan tamparan-tamparan!!
Akuberusaha untuk membela diri dari seranganmereka, aku berteriak dan minta tolong, hinggahabis kekuatanku. Aku merasa di rumah inilah akhir hidupku. Mereka semakin menghujaniku dengan pukulan-pukulan. Sementara itu akuberusaha menoleh ke sekitarku, aku berusahamengingat-ingat dari pintu mana aku tadi masuksupaya aku bisa keluar.
Ketika aku melihat pintu, aku segera bangkit membuka pintu dan kabur.Sementara mereka mengejar di belakangku. Akumasuk di tengah kerumunan orang hinggatersembunyi dari mereka.Kemudian aku menuju ke kamarku yang kebetulantidak jauh dari rumah itu.
Aku berdiri membersihkan darah dari wajah dan mulutku. Akumelihat diriku, ternyata pukulan dan tamparan-tamparan itu meninggalkan bekas pada kening,pipi dan hidungku. Darah mengalir dari mulutku,pakaianku robek. Aku memuji Allah yang telah menyelamatkanku dari binatang-binatang buas tersebut. Tetapi aku berkata dalam hati,
“Aku telah selamat, tetapi bagaimana dengan istriku?!” Wajahnya terbayang-bayang di
hadapanku, apakah ia juga menerima pukulan dan tamparan sepertiku? Laki-laki saja hampir-hampirtak sanggup menghadapinya… sementara ia adalah seorang wanita, apakah ia mampumenanggungnya?! Aku khawatir wanita yang lemah itu roboh…



























