Aku pun bangun, berwudhu’ dan shalat berjama’ah, kemudian ia tidur sejenak. Setelah
matahari terbit ia terbangun seraya berkata, “Mari kita pergi ke kantor pengurusan paspor!!” Aku berkata, “Kita akan pergi ke kantor pengurusan paspor lagi?! Dengan argumen apa?!
Mana foto-fotonya, kita masih belum memiliki foto-foto itu!!” Ia berkata, “Marilah kita pergi dan berusaha, jangan putus asa dari rahmat Allah.” Kami pun pergi. Demi Allah, ketika kaki-kaki kami menginjak lantai ruang pertama kantor pengurusan paspor tersebut dan mereka melihat istriku -yang sudah mereka ketahui sebelumnya- dengan hijabnya itu,
tiba-tiba salah seorang petugas memanggil, ”Engkau Fulanah?” Istriku menjawab, “Ya, benar!” Petugas itu berkata, “Ambillah paspormu.” Dan ternyata paspor itu telah beres, lengkap dengan foto-fotonya yang berjilbab. Aku merasa gembira, laluia menoleh kepadaku seraya berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, barangsiapa yang
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia adakan baginya jalan keluar.”
Tatkala kami ingin keluar, petugas itu berkata, “Kalian harus kembali ke kota yang kalian datangipertama kali agar paspor Anda distempel di sana.” Kami pun kembali ke kota yang pertamadan aku berkata dalam hatiku, ini adalahkesempatan untuk mengunjungi keluarganyasebelum kami meninggalkan Rusia.
Akhirnya kami sampai di kota keluarganya. Kami menyewa sebuah kamar kemudian kami menstempel pasportersebut.
Perjalanan yang penuh siksaan…



























