Home Opini Kadrun dan Radikal

Kadrun dan Radikal

SHARE

Kadrun adalah sebuah singkatan yang kepanjangannya adalah Kadal Gurun. Kadrun ini biasa digunakan oleh buzzer dan para pendukungnya kepada orang-orang yang suka demo dan kritis kepada kebijakan pemerintah.

Menurut mereka, umat Islam yang suka menggaungkan aksi bela Islam dan anti komunis harusnya hidup di Arab, di gurun pasir yang panas tempat tinggal kadal gurun dan bukan tinggal di Indonesia. Begitulah ungkapan mereka yang bisa disimpulkan.

Namun istilah kadrun secara tersirat mengandung makna kebencian terhadap Islam yang datang dari Arab, termasuk dalam penampilan seperti jenggot, gamis, cadar, celana cingkrang, dan lain sebagainya.

Bahkan sebagian mereka menarik garis yang lebih jauh bahwa kadrun identik dengan orang-orang radikal yang ingin mengubah negara Indonesia berdasarkan Pancasila menjadi negara khilafah.

Mengidentikkan umat Islam yang ingin melaksanakan ajaran Islam secara sungguh-sungguh dengan istilah kadrun atau radikal adalah tindakan gegabah yang berbahaya. Identifikasi bodoh semacam ini hanya akan meruncingkan perpecahan antar anak bangsa.

Entah sejak kapan istilah radikal dan radikalisme berubah menjadi negatif. Padahal menurut asal mulanya, radikal tak ada hubungannya dengan agama. Apalagi agama Islam. Menurut Wikipedia, radikal atau radikalisme berasal dari bahasa Latin, radix yang artinya “akar”. Istilah ini pertama kali digunakan pada akhir abad ke-18 oleh pendukung Gerakan Radikal. Dalam sejarah, gerakan ini dimulai di Britania Raya untuk meminta reformasi sistem pemilihan secara radikal. Gerakan ini awalnya menyatakan dirinya sebagai partai kiri jauh yang menentang partai kanan jauh. Jadi tidak ada hubungannya dengan mengambil jalan kekerasan di luar sistem demokrasi.

Jika istilah radikal mau disandingkan dengan Islam malah kacau pengertiannya. Bisa berarti Islam yang kembali ke akar aslinya, Islam kaffah, Islam yang sungguh-sungguh (jadi pengertiannya malah positif, karena istiqomah).

Jika yang dimaksud adalah orang Islam yang menghalalkan kekerasan, maka sebut saja orang atau oknum tersebut berpaham teror (terorisme). Jadi sebenarnya tak ada hubungannya antara istilah radikal/radikalisme dengan teroris/terorisme.

Entah mengapa saat ini berkembang pemahaman bahwa radikal adalah cikal bakal munculnya tindakan teroris. Lebih parah lagi tuduhan radikal seringkali ditujukan secara subyektif hanya kepada orang Islam saja. Padahal jika radikal berarti paham kekerasan bukankah non muslim juga bisa bertindak radikal (melakukan kekerasan)?

Jangan-jangan penggunaan istilah radikal atau kadrun adalah cara orang-orang yang tidak suka dengan kebangkitan Islam yang kini marak dimana-mana. Sebagai agama yang paling pesat pertumbuhannya di dunia, wajar jika ada yang takut dan membenci Islam dan umat Islam. “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (Al Baqaroh ayat 217).

Istilah radikal atau kadrun mungkin sengaja dibuat untuk menakut-nakuti umat Islam agar tidak beragama dengan kaffah dan istiqomah. MINDER menjadi muslim yang sebenarnya.

Istilah Islam radikal atau kadrun mungkin juga untuk menakut-nakuti kaum muslimin agar menjauhi pengajian-pengajian (ta’lim dan liqo’). Sebab ada tendensi untuk mencurigai orang yang rajin ngaji sebagai cikal bakal orang berpaham radikal dan berhak disebut kadrun. Padahal orang yang rajin ngaji justru merekalah yang paling getol memperbaiki diri. Merekalah agen of change perbaikan moral masyarakat Indonesia. Justru merekalah yang paling konsisten mempertahankan nilai-nilai Pancasila dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, mereka yang jauh dari pengajian (baca : agama) justru yang paling getol bermaksiat, melakukan korupsi dan hedon terhadap nilai-nilai luhur Pancasila. Sebab mereka tidak rutin mengasah iman dan mempelajari ilmu kebenaran dan kebaikan yang didapat melalui pengajian-pengajian.

Marahnya sebagian besar umat Islam terhadap upaya pengkhianatan oknum-oknum tertentu untuk mengganti Pancasila dengan trisila dan ekasila lewat RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) baru-baru ini menjadi bukti bahwa umat Islam-lah (yang mereka sebut kadrun dan radikal itu) justru yang paling gigih mempertahankan nilai-nilai Pancasila secara konsisten, sesuai dengan keinginan para pendiri bangsa Indonesia.

Jadi sebenarnya siapa yang merusak dan siapa yang membangun negeri ini?

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya. (Qs. Surat Al-Baqarah, Ayat 11-12).

SHARE
Previous articleMengenang Syaikh Muhammad Mursi, Presiden Sah ke-5 Mesir yang Syahid di Penjara Penguasa Zalim
Next articleSolusi Sahabat Nabi Menghadapi Pandemi
Direktur Eksekutif Lembaga Manajemen LP2U yang bergerak di bidang pemberdayaan manusia (Human Resources). Selain sebagai widyaiswara di Kementerian Keuangan dan Dosen STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), aktivitas ayah dari enam orang anak ini juga menjadi trainer pelatihan tentang manajemen dan kepemimpinan dengan lebih dari 3000 jam pelatihan, penceramah dan pembicara di berbagai seminar. Peraih gelar Magister Manajemen (MM) dan Master of Bussiness Administration (MBA) ini aktif di berbagai kegiatan dan organisasi Islam sejak mahasiswa tahun pertama. Aktif membina berbagai halaqoh sejak 1988. Selain buku 'Burn Yourself', buku yang telah dihasilkan antara lain: serial Manajemen Haraki, 77 Problematika Aktual Halaqoh I, Breaking The Time, Murobbi Sukses, Kreatifitas Plus dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here