Seperti kebanyakan para mualaf yang harus menghadapi konsekuensi yang tidak mengenakan setelah masuk Islam, begitu pula Aminah. Setelah menjadi seorang muslimah, Aminah banyak kehilangan teman-temannya. Ibunya juga tidak menerima keislamannya. Saudara perempuannya bahwa menganggap Aminah sakit jiwa dan ingin memasukkannya ke tempat rehabilitasi para penderita gangguan mental. Ayah Aminah yang dikenal sebagai orang yang bijak dan tempat meminta nasehat oleh banyak orang, tiba-tiba menjadi beringas dan seolah-olah ingin membunuh Aminah setelah mendengar puterinya menjadi seorang muslim.
Aminah sendirian, tanpa teman dan tanpa keluarga. Tapi ia tetap memilih jalan Islam, bahkan memutuskan untuk segera berjilbab meski untuk itu ia harus kehilangan pekerjaannya karena dipecat. Cobaan itu belum cukup, karena suami Aminah menceraikannya begitu tahu ia masuk Islam dan pengadilan memutuskan dua anaknya, satu laki-laki dan satu perempuan, dibawah pengasuhan suaminya, hanya karena Aminah kini menjadi seorang muslim.
“Itulah 20 menit yang paling menyakitkan dalam kehidupan saya,” kata Aminah dalam sebuah wawancara saat ia harus melepas kedua anaknya.
Di Colorado, Aminah mencoba membeberkan kasusnya pada media massa. Ia berharap bisa mendapatkan hak pengasuhan anaknya kembali karena hukum di Colorado menyebutkan bahwa seseorang tidak bisa kehilangan hak asuh anaknya hanya karena latar belakang agamanya. Meski demikian, Aminah tetap tidak berhasil mendapatkan hak asuh itu.
Aminah kembali menjalani kehidupannya sebagai seorang muslim. Meski sakit hati, ia tetap memperlakukan keluarganya dengan hormat dan tetap menjaga komunikasi dengan mereka. Ia juga tetap mendakwahkan Islam dalam setiap kesempatan bertemu dengan keluarganya. Dan perjuangannya tidak sia-sia.
Anggota keluarganya yang kemudian masuk Islam adalah neneknya yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Tak lama setelah bersyahadat, neneknya wafat. Setelah itu, ayah Amina yang dulu ingin membunuhnya karena keislamannya, menyatakan diri masuk Islam. Beberapa tahun kemudian, ibu Aminah pun menjadi muslimah. Lalu suami Aminah dan saudara perempuannya yang dulu ingin memasukkannya ke rumah sakit jiwa akhirnya juga mengucapkan dua kalimah syahadat. Tak ketinggalan, anak lelaki Aminah, pada usia 21 tahun juga memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.
Subhanallah … tak ada hal yang paling membahagiakannya Aminah selain melihat keluarganya memeluk Islam. Aminah pun terus mendakwahkan pengalamannya dan agama Islam sehingga banyak orang yang sudah terinspirasi dari pengalaman hidupnya. Entah sudah berapa banyak orang yang masuk Islam, setelah mendengar kisah Aminah dan ceramah-ceramah agamanya.
Sekarang sosok Aminah Assilmi sudah tiada, tapi namanya tetap harus dan hidup di hati orang-orang yang mengagumi dan menyayanginya. (ln/iol/isc)
























