Saat dunia terpesona oleh TikTok sebagai platform hiburan dan ekspresi, China justru mengambil langkah berbeda. Negara tempat aplikasi ini lahir malah “melarang” penggunaannya di dalam negeri. Sebagai gantinya, mereka punya Douyin, versi domestik TikTok yang diatur sangat ketat oleh pemerintah. Di balik keputusan itu, tersimpan pesan besar yang seharusnya kita tangkap: perlindungan generasi muda dari banjir konten dangkal.
Douyin dan TikTok dibuat oleh perusahaan yang sama, ByteDance. Namun, keduanya dioperasikan secara terpisah. TikTok untuk pasar internasional, Douyin untuk pasar Tiongkok. Antarmukanya mirip, fiturnya pun serupa. Tapi di balik tampilan yang sama, aturan mainnya jauh berbeda.
Pemerintah China mengatur Douyin dengan tangan besi. Anak-anak di bawah usia 14 tahun hanya boleh mengakses Douyin maksimal 40 menit per hari, itu pun hanya di jam tertentu: antara pukul 6 pagi sampai 10 malam. Kontennya? Sangat dikontrol. Anak-anak hanya akan melihat video edukatif, ilmu pengetahuan, budaya, dan patriotisme. Tidak ada konten joget asal-asalan, prank membahayakan, atau drama asmara murahan. Douyin dirancang sebagai platform pembelajaran yang dibungkus hiburan.
Sementara di Indonesia, TikTok sudah seperti “TV masyarakat”. Anak SD sudah lihai membuat konten lipsync dan challenge viral. Remaja menjadikan TikTok sebagai sumber informasi utama—sayangnya, bukan informasi tentang sains, sejarah, atau kebudayaan, melainkan tentang gaya hidup, beauty standard, dan tren-tren instan yang cepat menguap.
Kita tidak bisa menyalahkan anak-anak sepenuhnya. Mereka hanya produk dari ekosistem digital yang kita biarkan tumbuh tanpa pagar. Platform seperti TikTok memang dirancang untuk membuat penggunanya betah berlama-lama. Algoritmanya canggih, bisa membaca preferensi dan menghadirkan konten yang membuat kita terus scroll tanpa sadar waktu. Di tangan dewasa yang bijak, mungkin ini tak masalah. Tapi di tangan anak muda yang masih mencari jati diri? Ini bisa jadi bencana.
Sudah saatnya pemerintah Indonesia belajar dari China, tanpa harus meniru semua aspeknya. Kita bisa tetap demokratis, tetap memberi ruang ekspresi, tapi dengan tanggung jawab yang lebih besar.
1. Batasi Waktu Akses untuk Anak-Anak
Langkah pertama yang bisa diambil adalah memberlakukan batasan waktu akses bagi pengguna di bawah umur. Pemerintah bisa bekerja sama dengan penyedia platform untuk mengembangkan fitur kontrol orang tua yang efektif. Misalnya, akun yang terdaftar dengan usia di bawah 17 tahun hanya bisa mengakses platform selama 1 jam sehari, dan tidak di malam hari.
2. Kurasi Konten Edukatif dan Positif
TikTok Indonesia perlu diminta untuk menyesuaikan algoritma agar lebih mempromosikan konten yang mendidik, inspiratif, dan relevan dengan pembangunan karakter. Pemerintah bisa bekerja sama dengan para kreator konten, kementerian pendidikan, dan budayawan untuk menciptakan kampanye nasional yang mempromosikan konten berkualitas.
3. Verifikasi dan Identitas Nyata
Akun-akun anonim yang sering menjadi sumber hoaks, ujaran kebencian, atau konten tidak senonoh harus mulai dibatasi. Verifikasi identitas secara lebih ketat perlu dilakukan, setidaknya untuk akun yang aktif mengunggah konten.
4. Literasi Digital Masuk Kurikulum
Anak-anak kita butuh bekal untuk menghadapi dunia digital. Literasi digital harus masuk dalam kurikulum sekolah sejak dini. Bukan sekadar cara menggunakan aplikasi, tapi juga bagaimana memilah informasi, berpikir kritis, dan memahami etika berinternet.
5. Tanggung Jawab Bersama
Mengatur TikTok bukan cuma tugas pemerintah. Ini adalah kerja bersama. Orang tua harus peduli dan mengawasi anak-anaknya. Sekolah harus terlibat. Komunitas harus aktif. Kreator konten harus menyadari pengaruh mereka. Dan kita semua, sebagai pengguna, harus lebih bijak.
Jika kita abai, maka jangan kaget jika suatu hari kita memiliki generasi yang lebih fasih berjoget daripada berargumentasi. Yang lebih tahu tren FYP daripada sejarah bangsanya sendiri.
Kita tidak sedang anti hiburan. Hiburan itu perlu. Tapi hiburan yang cerdas, yang menginspirasi, yang memperkaya jiwa. Bukan hiburan kosong yang hanya membuat kita lupa waktu.
China mungkin mengambil pendekatan ekstrem, tapi niatnya jelas: mencetak generasi yang kuat secara moral, mental, dan intelektual. Indonesia bisa menempuh jalan berbeda, tapi dengan tujuan yang sama.
Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa viral kita hari ini, tapi oleh seberapa siap generasi mudanya menghadapi tantangan esok hari.



























