Home Internasional Perjalanan Pangeran Muhammad untuk Mendikte dan Berkuasa di Timur Tengah

Perjalanan Pangeran Muhammad untuk Mendikte dan Berkuasa di Timur Tengah

303
0
SHARE

Dulu, alm. Presiden Ali Abdullah Saleh pernah mengatakan, “Aku berperang melawan Houthi lebih dari 6 kali, setiap kali perang aku didukung Arab Saudi, dan tidak sekalipun aku menang. Kini aku yakin, siapapun yang didukung Saudi tidak akan pernah menang!”.

Ya, ketika Sang Presiden bersama Houthi melawan Koalisi, persenjataan canggih dan pesawat tempur mutakhir Koalisi pimpinan Saudi tidak mampu menundukkan pasukan Saleh-Houthi. Namun, kurang dari 24 jam setelah Ali Abdullah Saleh kembali ke pangkuan Saudi, timah panas langsung menembus kepalanya, dan teori Ali Abdullah Saleh pun terbukti.

Dalam satu minggu terakhir, Arab Saudi cq. Pangeran Muhammad Ben Salman (MBS) kena dua “musibah” yang cukup menyakitkan.

Pertama, Presiden Ali Abdullah Saleh (AAS) dibunuh oleh mantannya, Houthi, dalam tempo yang sangat singkat setelah AAS mengumumkan ingin membuka lembaran baru dengan Koalisi Saudi dalam Operasi Decisive Storm yang dipimpin MBS sejak 2 tahun lalu. Kedua, ketika kematian AAS sedang mengguncangkan Istana Riyadh, PM. Lebanon Saad Hariry menambah garam di atas luka dengan mengumumkan pembatalan pengunduran dirinya dari jabatan PM, yang mana sama-sama diketahui pengunduran diri itu terjadi akibat tekanan Saudi.

Baca Juga:   TGB: Umat Kompak, tak Ada yang Berani Remehkan Indonesia

Setelah menghabiskan milyaran Dollar untuk menyerang Yaman, MBS paham bahwa “biaya yang besar” tidak selamanya “sama dengan kemenangan”. Isunya MBS akan mengakhiri tindakan “mubazirnya” itu dengan menarik diri dari Yaman melalui kesepakatan politik. Kita tunggu saja kebijakan “waras” itu dalam waktu dekat.

Sejak awal, Emirates sudah mengusulkan agar dibuat saja skenario perang saudara di Yaman, sehingga lebih mudah menarik pasukan AAS ke kubu Koalisi, karena AAS itu cinta pada Yaman. Namun Saudi tidak mau, karena dikira Yaman akan tunduk dalam 2 kali 24 jam saja dibawah serangan Koalisi, eh nggak taunya sudah mau 2 kali 24 bulan Yaman masih belum dikalahkan.

Kalau bukan karena ajal mendahului, mungkin Koalisi sudah memiliki presiden baru di Yaman yang memiliki pasukan kuat untuk melawan Houthi. Tapi sayangnya, semua tidak berjalan sesuai skenario.

Saat ini, Koalisi Saudi tidak memiliki siapa-siapa yang dapat diandalkan di Yaman, dan opsi meneruskan perang juga bukanlah pilihan yang cerdas, baik secara militer maupun ekonomi, karena di balik itu ada Iran. Menarik diri dari Yaman artinya menyerahkan Yaman kepada Houthi, dengan itu Sana’a akan menjadi ibukota negara Arab ke 4 yang memiliki pengaruh Iran, setelah sebelumnya Beirut, Baghdad dan Damascus. Semuanya karena Saudi!

Baca Juga:   Remaja Indonesia 15 Tahun Dijual Ayahnya Untuk Penuhi Hasrat Tentara ISIS

Awalnya, Saudi mengira dengan menekan Hariry untuk resign akan menyebabkan chaos politik di Lebanon, dan rakyat Lebanon akan menuntut ditariknya Hizbullah dari Suriah, Irak dan Yaman. Ternyata, Presiden Michel Aoun mampu menahkodai Lebanon dengan baik dan pidato-pidatonya tidak saja mampu menenangkan rakyat, tapi juga Mata Uang Lebanon pun tenang dan stabil. Bukan seperti Presiden negara sebelah, melihat keanehan dan simpang-siur berita yang merusak opini umum di masyarakat sampai rakyat hampir bacok-bacokan, doi masih meneng bae!

Kelihatan lagi kalau Saudi salah dalam perhitungannya, skenarionya selalu tidak matang, bahkan contingency plannya saja amburadul. Sekali lagi, teori Presiden Ali Abdullah Saleh benar.

Isu baru, Perdamaian Israel-Palestina akan menjadi ladang ranjau baru bagi Saudi, salah nginjak wassalam. Pada saat semua negara mengecam pemindahan ibukota Israel ke Qudus, MBS malah mengusulkan ibukota Palestina pindah ke Abudis!

Sayangnya, setelah usulan itu dicibir banyak umat Islam, Saudi “regain his mind” dan mengecam kebijakan Trump seperti yang dilakukan negara-negara Islam lainnya. Entah dalam hal ini teori Ali Abdullah Saleh juga berlaku!

Baca Juga:   Donald Trump Restui Jerussalam Sebagai Ibukota Irael, Apa yang Akan Terjadi?

Sepertinya Perjalanan calon Raja Baru, Pangeran Muhammad untuk mendikte dan berkuasa di Timur Tengah masih panjang, itupun kalau tidak “diaborsi” di tengah jalan…Biarlah waktu yang menjawab. #alMaidah54

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here