Home Hikmah Pemuda Tampan Ini Tinggalkan Kekayaan Demi Islam

Pemuda Tampan Ini Tinggalkan Kekayaan Demi Islam

280
0
SHARE

Mush’ab bin Umair adalah pemuda yang mempesona. Ia adalah salah seorang pemuda paling tampan di Makkah. Lahir dari keluarga yang kaya raya membuat penampilannya selalu terlihat paling parlente diantara seluruh pemuda Makkah lainnya. Bahkan, baju dan wewangiannya tidak ada yang menyamai. Dari jarak beberapa meter, sudah dapat diketahui dari wanginya yang khas, bahwa Mush’ab bin Umair baru saja melewati tempat itu.

Kelebihan Mush’ab yang lebih mempesona di balik wajahnya yang tampan dan orangtuanya yang hartawan adalah otaknya yang cemerlang. Perpaduan ketiga hal ini; ketampanan, kekayaan, dan kecerdasan, membuat Mush’ab bin Umair menjadi bintang pembicaraan dalam rapat dan pertemuan. Ia menjadi sosok pemuda ideal yang diimpikan pembesar Quraisy sebagai ‘pewaris tahta masa depan.’ Ia menjadi sosok pemuda idaman yang didambakan seluruh gadis Makkah untuk menjadi suaminya.

Di tengah harapan keluarga dan pembesar Quraisy bahwa Mush’ab akan menjadi penerus mereka, terdengar sebuah berita yang menarik perhatian setiap orang yang berakal. Bahwa Muhammad Al Amin menyatakan dirinya sebagai utusan Allah. Ia membawa agama baru bernama Islam, yang hanya menyembah satu Tuhan; Allah.

Ketika mengetahui kabar itu, Mush’ab bin Umair tertarik dan sangat penasaran. Ia tahu, Muhammad adalah orang yang paling terpercaya. Ia terkenal tidak pernah berdusta sehingga orang-orang Makkah sepakat memberinya gelar Al Amin. Akal Mush’ab yang cemerlang pun bekerja; bahwa tidak mungkin orang yang selama ini selalu jujur, akan berdusta dalam urusan besar yang membawa nama Tuhan. Mush’ab pun kemudian mencari tahu, di mana ia bisa berjumpa dengan Muhammad.

Hari itu pun tiba. Mush’ab dengan hati-hati melangkah ke rumah Arqam bin Abi Arqam. Ia mendapat informasi, di rumah inilah Muhammad bermajelis bersama para sahabatnya. Mentarbiyah mereka, membacakan wahyu-wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya.

Tak salah, Mush’ab akhirnya bertemu dengan Muhammad Rasulullah. Memandang beliau memberikan keteduhan sendiri bagi jiwanya yang selama ini dimanja orangtua dengan kekayaan dan kemewahan. Melihat majelisnya yang dipenuhi dengan wajah-wajah ikhlas dan penuh kejujuran membuat Mushab merasa laksana menemukan oase di gersangnya padang keangkuhan dan kesombongan orang-orang kaya dan para penguasa. Mendengar ayat-ayat Al Qur’an dibacakan, Mush’ab bagai menemukan kembali fitrahnya, mempertemukan jiwanya dengan sesuatu yang amat dirindukannya. Mushab melayang dalam kalam-kalam Ilahi yang begitu mempesona. Tidak pernah ia mendengar kalimat-kalimat seindah dan sedalam ini. Menyirami jiwa, menyentuh hatinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here