Sekali-kali kita perlu melihat story, chronolgy serta posting-posting lama kita di facebook. Dijamin kita akan tertawa, bahkan terkadang menangis mengingat kekonyolan yang pernah kita tulis disana dan telah dibaca oleh orang lain. Aku yakin semua mengalami hal yang sama, ketika awal punya akun facebook, suka posting hal-hal yang tidak bermutu. Namun, seiring banyak kawan di facebook, seiring bertambah “dewasanya” di dunia maya, kita jadi sedikit lebih bijak. Yang awal suka share apa saja, tanpa mempertimbangkan dan menghargai nikmat “otak”, menjadi sedikit lebih bijak.
Aku sendiri, ketika membaca postingan tahun 2010, rasanya mau muntah, entah apa-apa tertulis dan tershare. Bahkan lebih parah dari itu, apabila terjadi perdebatan dan perbedaan pendapat, aku tidak akan membiarkan orang lain keluar dari wall ku dengan “senyum” setelah mengomentari wall ku. Tapi, it was long gone!
Setelah ku pikir-pikir, ternyata membiarkan komentar orang lain dan tidak menanggapinya seketika, apalagi saat sedang emosi, namun lebih baik membiarkan komentar itu sampai besok. Ketika besok ku baca, ternyata “itu komentar ga perlu dijawab”, “itu komentar tidak bermutu, jadi let it be so”!
Dari melayani komentar-komentar yang tidak jelas, dari share hal-hal yang tidak bermutu, seiring waktu kedewasaan berfacebook mengajarkan kita bahwa dunia itu indah karena banyak warna, dan yang paling penting apa yang sudah kita tulis, meskipun bisa diedit atau didelete, hal itu mencerminkan kita, dan sudah tersave somewhere jauh disana.
Dalam beberapa ayat Quran Allah menjelaskan bahwa kelak di Akhirat kita semua akan menerima buku berisi catatan, chronolgy dan perbuatan yang kita lakukan selama di dunia. Mungkin kita akan tertawa dan menangis ketika melihat catatan yang “la yaghadiru shaghiratan wala kabiratan illa ahshaaha”, apapun dan sekecil apapun tercatat rapi!
Sama seperti postingan di fb, mungkin kita pernah menulis apa, kita sudah lupa, namun kalau dibuka masih tersimpan rapi di facebook. Begitu juga dengan perbuatan dan perkataan kita di dunia selama hidup, mungkin kita lupa pernah melakukan sesuatu, ternyata tercatat rapi dibuku itu.
Kalau postingan di facebook bisa diedit atau didelete, begitu juga dengan perbuatan dan perkataan kita yang terlanjur tercatat, bisa diedit atau didelete dengan taubat serta amalan-amalan sunat.

























