Home Saief Alemdar Jawaban Sheikhna Al Buty Untuk Para Kritikusnya

Jawaban Sheikhna Al Buty Untuk Para Kritikusnya

473
0
SHARE

Penyataan sheikh Buty yang dipublikasi oleh website Naseemsham. Berikut kutipannya:

“Saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang sering sekali ditanyakan, yang selama ini saya acuhkan, tetapi sepertinya sekarang saya harus menjawab. Banyak saudara-saudara yang bertanya baik langsung, maupun lewat telpon pertanyaan ini:

“Banyak orang yang menuduh anda sesat, bodoh, munafik bahkan kafir, karena sikap anda yang sering anda ungkapkan dalam pengajian dan khutbah, apa pendapat anda terhadap mereka?”

Sebagian mereka memang ingin saya menjawab pertanyaan itu, karena mereka berbaik sangka pada saya dan mereka yakin kalau yang saya katakan itu kebenaran, dan sebagian lagi menjadi ragu saat membaca tuduhan-tuduhan itu di media masa ataupun di internet, sedangkan saya tidak menjawab apa-apa, sekarang saya memang harus sedikit berbicara dan menjelaskan masalah ini.

Pertama: saya mampu wahai saudara-saudara, Alhamdulillah Allah telah memberikan saya kemampuan orasi dan daya persuasi yang bisa membuat orang percaya apapun yang saya katakan, dan saya mampu meyakinkan semua orang yang mendengar ceramah saya, dan saya mampu meraih ridha mereka semua dari berbagai lapisan masayarakat yang hadir, tapi untuk itu saya harus berkorban banyak, saya harus menjadi orang munafik! Orang munafik bisa meraih ridha semua manusia, dan saya meminta pada Allah semoga saya meninggal dalam keimanan yang suci, dan semoga saya tidak menghadap Allah sedangkan dalam iman saya ada noda.

Kedua: Saya katakan pada mereka, saya mampu mebela diri dan membela atas apa yang saya katakan, dan saya mampu membuktikan apa yang saya katakan adalah kebenaran yang disepakati oleh Quran dan Hadis serta wasiat-wasiat Rasulullah, dan saya tidak seperti apa yang mereka katakan, dan saya bersih dari tuduhan itu.

Saya mampu dan bisa mengatakan itu semua, tapi wahai saudara-saudara, apabila saya mengatakan ini semua, kemudian besok saya menghadap Allah, saya menjadi orang riya, karena saat saya mengatakan itu, itu adalah pembelaan saya terhadap diri saya, dan membela diri saya dari tuduhan, dan inilah saya membela diri, dan mengatakan begini dan begitu. Tetapi, hari akhirat kelak, saya akan ditanyakan, “Kamu berbuat begini, berkata begitu karena kamu mau orang mengatakan bahwa kamu adalah orang lurus, orang baik, orang mustaqim dan membuktikan kalau kamu bisa membela diri, baiklah…ini pahalamu!”. Tidak wahai saudaraku, demi Allah saya tidak mau menghadap Allah dalam keadaan seperti ini, oleh karena itu saya tidak akan membela diri atas tuduhan-tuduhan itu, kalau saya melakukan itu, saya akan rugi dan kehilangan pahala atas apa yang sudah saya lakukan selama ini, itupun kalau yang saya lakukan ada pahalanya…..

Ketiga: Sikap saya tidak membela diri tidak berarti itu adalah ketawdhuan saya, misalnya saya katakan: Saya tidak membela diri, mungkin saya saya benar-benar salah, bisa saja mereka yang menuduh saya salah, saya bodoh, saya sesat dan saya Bal’am bin Baura abad ini, dan saya kafir adalah benar, tidak demian juga pengertiannya, karena diluar sana banyak orang yang percaya pada saya, dan percaya apa yang saya katakan adalah kebenaran, dan mereka mengikuti pendapat saya, dan akan banyak kemungkinan lainnya…

Jadi, solusinya bagaimana?

Solusinya adalah saya akan diam, saya tidak akan membela diri atas sikap dan pendapat saya selama ini, serta metode yang saya ikuti dan saya dibesarkan selama ini, dan saya akan menghadap Allah dengan cara ini, dan saya juga tidak akan menaggapi sikap orang lain yang suka menyesatkan dan mengkafirkan orang lain…

Saya katakan pada saudara-saudara yang terus mengejar saya dengan pertanyaan ini, jawaban saya adalah saya akan diam dan menyerahkan semuanya pada Allah, kalau apa yang saya katakan selama ini tulus mencari keridhaan Allah, maka saya yakin “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman” (Hajj:38), dan kalau yang selama ini saya katakan hanya demi menunjukkan kemampuan dan keilmuwan saya pada manusia, dan menunjukkan saya mampu mengalahkan semua orang yang menentang saya, dan mampu mengalahkan hujjah mereka, maka dalam hal ini saya akan rugi dunia akhirat.

Ini yang saya katakan, dan saya berkomitmen dengan ini. Saat saya dimintakan untuk mengatakan sesuatu tentang agama Allah, saya akan mengatakan apa yang saya tahu dari apa yang saya pelajari dari Quran dan Sunnah, dan saya tidak peduli apa kata manusia, mau mereka marah atau suka, inilah prinsip saya yang selalu saya jaga dan saya jalankan, dan saya berharap suatu saat ketika saya menghadap Allah saya tetap berpegang pada prinsip ini, dan Rasulullah bersabda, “Barang siapa memilih ridha manusia dan acuh pada kemarahan Allah, maka Allah akan menyerahkan semua urusannya pada manusia, dan barang siapa yang memilih keridhaan Allah dan acuh pada kemarahan manusia, maka Allah akan menjaganya,dan mencukupkannya”.

Inilah prinsip yang saya pegang dan saya percaya. Kalau ada yang bertanya lagi, “Terus,apa jawaban  anda terhadap orang yang mengkafirkan anda…?”

Saudaraku, kalau mereka yang mengatakan itu terhadap saya adalah ulama yang sudah sampai level ijtihad atau mujtahid, dan atas dasar ijtihad itu mereka mengatakan saya sesat atau kafir, maka mereka telah salah dalam ijtihadnya, dan saya doakan semoga Allah memberi mereka pahala atas ijtihad mereka meskipun salah. Ini kalau ijtihad mereka murni berdasarkan ilmu….saya katakan pada mereka, “Kalau mujtahid benar dalam ijtihadnya, maka dapat dua pahala, dan kalau salah dapat satu pahala”.

Adapaun kalau motif mereka menuduh saya kafir dan sesat karena masalah pribadi, karena benci pada saya, karena dengki dan iri, maka saya akan berdoa seperti doa sayyidi sheikh Ahmad Rifai (meskipun saya ini menjadi pemotong kuku beliau saya tidak pantas…), saya akan mendoakan dengan doa beliau itu, “Ya Allah, musuhilah siapa yang memusuhiku, tipulah orang yang menipuku, dan hancurkanlah orang yang ingin menghancurkanku, …”. Kalau memang motifnya maslahat pribadi, rela mengorbankan orang lain, agama dan negara demi itu, maka inilah doa saya. Tetapi kalau dia mujtahid, silahkan dia berbicara apa yang dia mau”

Wahai saudaraku, mari kita berjanji pada Allah dan pada diri sendiri bahwa kita akan segera menghadap Allah, dan kita berjanji untuk tidak melakukan apapun kecuali demi Allah, demi mengharap Ridha Allah.

Kita saat hidup di zaman perang informasi dan manipulasi produksi, zaman ruangan abu-abu, gambar dan video yang tidak jelas tersebar dimana-mana. Hari ini, hal itu sampai pada saya….

Beberapa minggu yang lalu, saat ada domonstrasi di masjid, setelah shalat jumat di masjid umawy, ketika jamaah keluar masjid, ada beberapa orang yang sudah menunggu di lur masjid, mereka tidak shalat jumat dan tidak ikut jamaah, saat jamaah keluar, mereka yang tidak shalat itu mulai berteriak, karena itu saya mengatakan dalam khutbah, “orang-orang yang demo itu jidadnya tidak sujud”, mereka menunggu jamaah keluar untuk bergabung bersama jamaah, seakan-akan yang demo itu adalah jamaah jumat. Dan pihak tertentu memanfaatkan kata-kata saya dan mengatakan saya menuduh semua domonstran diseluruh Suriah adalah orang-orang yang tidak shalat! Inilah contohnya manipulasi informasi, ini tidak kita sukai dan Allah juga tidak meridhainya.

“Kalau benar-benar ada cinta pada-Mu, semua akan mudah…karena semua yang di atas tanah adalah tanah”.
Mari kita doakan semoga Allah memberi hidayah pada kita semua, dan pada pemimpin kita, saya tidak punya rasa dengki pada siapapun, saya hanya punya cinta, saya senang saat Allah mencintai semua hamba-Nya, dan saya ingin seperti itu untuk semua manusia, inilah prinsip saya”.

Semoga kita bisa meneladani kebesaran jiwa beliau…Rahimakallah Sayyidi…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here