Home Dunia Kampus Istanbul, Roma Baru yang Diagungkan

Istanbul, Roma Baru yang Diagungkan

466
0
SHARE

Selama ratusan tahun yang lalu, kota yang kita sebut hari ini dengan nama Istanbul bernama Konstantinopel, artinya Kota yang dilindungi. Pastinya, kota yang sangat diagungkan itu memiliki banyak nama selain Konstantinopel, ia disebut juga dengan nama Nea Roma atau Roma Baru.

Karena, satu-satunya kota besar yang pantas dibandingkan dengan Istanbul saat itu adalah Roma. Namun, ketika Ottoman berkuasa, Istanbul menjadi pusat dunia, jadilah Roma sebuah cerita masa lalu.

Setelah dua ratus tahun Istanbul berdiri, tidak ada kota di muka bumi yang lebih besar dari Istanbul, Alexandria di Mesir ataupun Roma di Italia sekalipun tidak mampu menyaingi Istanbul. Jerusalem, selaku pusat keagamaan penting di dunia, tidak mampu menyaingi Konstantinopel karena Jerusalem meskipun ramai, tapi hanya sebuah kota kecil. Antokia yang pernah menjadi kota besar lambang kejayaan Suriah dan Athena kota para Dewa, semua sudah runtuh dan tidak mungkin bisa disandingkan dengan kebesaran Istanbul.

Kita tidak bisa menemukan kota indah seperti Istanbul dengan posisi geografis dan keindahan alamnya, mungkin pernah ada zaman dulu seperti Damascus pada masa kejayaan Dinasti Islam Omayyah, Baghdad pada masa kejayaan Dinasti Islam Abbasiyah, atau mungkin Isfahan dan sebelumnya Qazvin. Namun, selama 1000 tahun lalu, belum ada yang mampu menyaingi keindahan Istanbul.

Pada pertengahan Abad 6 Masehi, Anthemius dan Isidros dua orang orang arsitek ulung membangun katedral di atas tanah bekas gereja yang telah terbakar, dan menamakannya Hagia Sofia, artinya hikmah yang diagungkan. Kalau bukan karena jasa Mimar Sinan pada abad ke 16 masehi, yang memperbaiki dan membangun kembali Hagia Sofia, mungkin hari ini Hagia Sofia cuma cerita. Itulah untuk pertama kalinya seorang arsitek di dunia mampu membangun kubah yang besar dan setinggi kubah Hagia Sofia.

Pada saat itu, orang-orang dari Italia, Yunani, Sham, Caucasus, Crimea dan Rusia bahkan Skandinavia yang saat itu dihuni oleh manusia yang masih sangat primitif beranggapan bahwa bisa pergi melihat Istanbul merupakan sebuah cita-cita besar yang harus mereka capai.

Pada abad ke 15, tidak ada yang bisa menandingi keindahan Istanbul, Venecia, Pisa, Roma dan Florence yang terkenal keindahannya itu harus menunggu “ngantri” 200 tahun untuk bisa “enchanting” seperti Istanbul pada akhir abad 16 dan 17.

Makanya pada masa Ottoman, orang-orang dari Eropa menyebut Istanbul dengan nama “Polis”, dalam bahasa Yunani Polis artinya kota. Kalau ada yang menyebut “polis” ya maksudnya Istanbul.

Bersama berjalannya waktu, muncul istilah “Stinpoli”, artinya ke/dari kota. Pada abad ke 18, penduduk Turki mulai memakai istilah Islambul, artinya kota Islam pada tulisan-tulisan dan nisan serta monumen.

Istanbul Ottoman memiliki banyak hal yang menarik perhatian Raja dan Ratu dari seluruh dunia, sampai-sampai Ratu Catherina The Great dari Rusia ingin memakai pakaian pembantu demi bisa masuk ke Istanbul dan menikmati keindahannya. Benar, pada zaman itu ada kota lain yang padat dan besar seperti Isfahan di Iran, Delhi India, namun Istanbul tetap lebih mempesona dengan arsitek bangunan dan perpustakaannya.

Karena saking terkenalnya Istanbul dengan berbagai kelebihan, tempat dimana para Raja, Ratu, pengeran, pedagang, penyair, politikus, arkeolog, arsitek, pelaut, orang barat dan timur saling meneriaki dan memuji keindahan yang sama. Karena itu, Istanbul memiliki banyak sekali nama yang diberikan oleh mereka.

Dalam bahasa Slavia Istanbul disebut Tsargrad, artinya Ibukota Tsar atau Sultan. Kalau tidak salah ingat, sampai hari ini jadwal penerbangan di ruang tunggu Sofia Airport di Bulgaria masih memakai nama Tsargrad untuk penerbangan tujuan ke Istanbul.

Benar kata orang ketemu di jalan, ”Kalau Tuhan memberimu satu kali saja kesempatan untuk melihat dunia, maka jangan ragu-ragu, lihatlah Istanbul”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here