Home Kisah Cara KH Hasyim Asy’ari Merubah Budaya Maksiat Suatu Desa

Cara KH Hasyim Asy’ari Merubah Budaya Maksiat Suatu Desa

SHARE

“Bil Hikmah, ini yang pertama”

Suatu hari di Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur. KH Hasyim As’ari tengah berfikir, bagaimana merubah budaya maksiat di desa itu. Berbagai masalah sosial di lingkungannya memang disebabkan oleh suburnya praktek kemaksiatan kronis disana. Maling, merokok ganja, main perempuan, perjudian, menjadi satu di desa itu. Dan memang disitulah tantangannya. Hal itulah yang menyebabkan Ayahanda KH Hasyim As’ari sempat keberatan dengan niat beliau untuk membuka pesantren di tempat itu. Karena tempat itu ladang maksiat, tempat kotor dan berlumur dosa. Kakek beliau, Kyai Usman-pun menyatakan keberatan yang sama.

Tapi memang niat beliau kuat dan kokoh, sehingga akhirnya Ayah dan kakeknya-pun memberi restu kepada beliau. Namun, tak urung ini jadi beban fikiran juga. Bagaimana menyadarkan masyarakat yang sudah menganggap maksiat ini sebagai sebuah kebiasaan menjadi lebih baik. Setidaknya kembali insyaf bahwa ini adalah dosa yang tidak boleh dilakukan. Lama beliau berfikir, sampai akhirnya beliau mencoba sebuah cara yang beliau anggap jitu.

KH Hasyim Asy’ari ikut berjudi bersama-sama dengan para penjahat di tebu ireng itu. Hebatnya, beliau menang terus-menerus. Sampai para penjahat ini heran. Ini ada orang ngakunya Kyai, tapi kok main judi. Menang terus-terusan lagi. Akhirnya mereka memberanikan diri untuk bertanya kepada KH Hasyim As’ari apa rahasianya beliau menang terus.

Lalu kemudian beliau bilang, ada doanya jika ingin menang terus, jika ingin tahu maka datanglah ke pesantrennya. Maka sore itu datanglah puluhan orang penjudi ke pesantren tebu ireng untuk tahu doa yang diajarkan KH Hasyim As’ari. Setelah doa itu diajarkan, maka pulanglah para penjudi itu ke rumah masing-masing dan praktek pun dilakukan. Tapi ternyata, mereka masih kalah dalam perjudian. Maka mereka balik lagi ke KH Hasyim As’ari untuk menanyakan kenapa mereka masih kalah?

Baca Juga:   Ini Nama Bidadari Tercantik di Surga

“Kapan kalian membaca doa itu” tanya KH Hasyim As’ari

“Sebelum main judi kyai….”

“Ya pantes aja kalah. Doa itu dibacanya aja salah. Seharusnya doa itu dibacanya setiap selesai sholat…”

Para penjudi itu saling pandang. Mereka tidak pernah tahu apa itu sholat. Tapi mereka ingin menang judi. Maka bertanyalah mereka tentang apa dan bagaimana sholat itu. Lalu dengan penuh kesabaran, KH Hasyim As’ari mengajarkan tentang pengertian sholat, rukun, syarat, dan syah-nya Sholat. Kemudian mengajarkan kepada mereka bacaannya.

Kemudian hikmah-hikmahnya sholat. Pelan namun pasti, para penjudi itu belajar tentang sholat. Lalu karena kajiannya menarik, kemudian mereka minta ditambah lagi kajian yang lain tentang Islam. Lama-kelamaan sebagian besar penjudi itu mulai melaksanakan sholat, dan meninggalkan judinya. KH Hasyim As’ari bisa tersenyum sekarang, karena beliau sudah mengajarkan tentang HIKMAH sholat kepada para penjudi itu.

Demikianlah cerita tentang KH Hasyim As’ari yang saya dapatkan dari Alm KH Zainudin MZ dalam sebuah ceramahnya. Sebuah kisah yang begitu menginspirasi saya, sehingga saya harus mengacungkan jempol kepada KH Hasyim As’ari atas keberhasilan metodologi dakwah yang beliau terapkan kepada para penjudi itu. Dan membuat saya berandai-andai, jika saja semua mubaligh secerdik beliau dalam mengamalkan Islam.

Dakwah itu mengajak dan bukan mengejek. Dakwah itu merangkul dan bukan memukul. Dakwah itu menyeru dan bukan memburu. Dakwah itu sebuah perjalanan panjang yang bisa jadi lintas generasi. Coba kita lihat, kapan Muhammadiyah besar? Kapan NU menggurita? Kapan PERSIS meraksasa? Apa di zaman KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim As’ari masih hidup? Tidak !! Dakwah mereka berkembang melintas generasi dan zaman sehingga sekarang kita bisa merasakan denyut kemajuan dari dakwah beliau-beliau itu. Dakwah beliau-beliau itu tidak bengis, tidak kejam, tidak mengkafir-kafirkan, penuh kelembutan dan penuh toleransi.

Baca Juga:   Kisah Haru Anak Pengemis Berprestasi

Bagaimana KH Ahmad Dahlan tetap menerima seorang Kyai yang menuduh beliau telah kafir karena tasyabuh bil kufri karena mengajar dengan celana dan meja serta bangku dan papan tulis mirip orang Belanda. Beliau dengan arif dan bijak sekali mengatakan bahwa yang mengantarkan Kyai tersebut ke Jogja adalah kereta api yang juga buatan Belanda, apa iya sang Kyai tersebut bisa disebut kafir? Sang Kyai-pun terdiam. Sungguh metode dakwah yang tepat jika kita terapkan dalam kehidupan sekarang.

“Dan serulah ke jalan Tuhanmu dengan HIKMAH, dan Contoh yang baik, dan lawanlah mereka itu dengan sesuatu yang lebih baik” demikian perintah Allah dalam Al-quran. Kita diperintahkan untuk berdakwah pertama kali dengan Hikmah. Banyak diantara ulama menterjemahkan Hikmah dengan makna perkataan yang baik. Tapi saya cenderung memaknainya dengan mengungkapkan apa yang sudah kita dapat dari apa yang hendak kita dakwahkan itu.

Jika kita menyeru kepada sholat, maka yang harus kita tunjukkan adalah apa yang kita dapatkan setelah kita sholat. Jika kita menyeru bahwa orang yang berzakat pasti akan kaya, maka tentu saja kita harus zakat dulu dan harus kaya dulu. Sebab orang tidak akan percaya begitu saja jika tidak melihat bukti. Jangan pernah mendakwahkan bahwa sholat akan mendatangkan ketenangan jika Rumah Tangga kita saja masih babak belur penuh pertengkaran.

Sebab ibarat penjual, kita haruslah tahu dan merasakan dulu apa yang akan kita jual agar lebih meyakinkan konsumen tentang produk kita.

Mungkin ada yang menanyakan “Lalu bagaimana jika saya hendak menerangkan tentang Alam Akhirat padahal belum pernah kesana?” Khusus untuk alam akherat, Al-quran memerintahkan kita untuk “Yuuqinuun” (meyakininya) dan bukan “Yu’minunn” (mengimaninya), Meyakini berarti mempercayai meskipun tidak ada bukti ilmiahnya. Sedangkan mengimani artinya percaya dengan bukti ilmiah akan keberadaanya.

Baca Juga:   Erdogan Jelaskan Tujuan Sesungguhnya Kudeta dengan Permisalan Sebuah Tasbih

Jika seseorang sudah tertarik melihat dan menyaksikan hikmah yang Nampak dari perilaku kita. Maka kemudian dia akan bertanya, bagaimana anda bisa seperti begitu? Maka jika pertanyaan ini diajukan, barulah kita laksanakan perintah kedua : DENGAN CONTOH YANG BAIK. Kita sampaikan bahwa kita bisa hidup seperti ini karena menunaikan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangannya. Barulah kita contohkan bagaimana sholat itu, bagaimana puasa yang benar itu, bagaimana zakat yang potensial itu, bagaimana menuanaikan haji yang baik dan benar itu.

Jika masih keukeuh dengan kemaksiatannya bagaimana? Maka LAWANLAH DENGAN SESUATU YANG LEBIH BAIK. Berikanlah alasan dan ancaman serta pahala dengan bijaksana dan yang jelas lebih baik. Apabila kita kurang yakin dengan kebaikan yang kita akan ajukan, maka diusahakan jangan melawan. Karena ketika kita tidak yakin untuk menang, maka kita sudah kalah selangkah. Maka jangan pernah melawan kecuali jika kita yakin itu lebih baik. Ini perintah Al-quran.

Demikianlah metodologi dakwah itu. Maka memang tidaklah mudah menjadi seorang mubaligh itu. Ibarat penari dia harus tahu irama gendang. Kapan saatnya dia menari cepat kapan saatnya dia menari lambat. Seorang mubaligh bukan sekedar modal tampang ganteng yang setiap saat diuber-uber televise untuk di close up gambarnya. Bukan pula seorang pelawak yang hanya dicari kata-kata lucunya untuk sekedar menghibur penonton. Tapi mubaligh adalah penyeru ke jalan Tuhan.

Adakalanya jalan ini sulit dan susah, ada kalanya mulus dan mudah. Tapi seorang mubaligh tidak akan pernah mundur walau setapak, jika memang ada yang harus disampaikan…Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here