Home Dunia Islam Seberapa Islami Negara Islam?

Seberapa Islami Negara Islam?

SHARE
Pictures of U.S. President Donald Trump and Saudi Arabia's King Salman bin Abdulaziz Al Saud are projected on the front of the Ritz-Carlton, where Trump is staying in Riyadh, Saudi Arabia May 20, 2017. REUTERS/Jonathan Ernst - RTX36RFF

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof Hussain Askari dari George Washington University berjudul “Seberapa Islami-kah Negara-Negara Islam?” menunjukkan bahwa sebagian besar negara yang menerapkan Prinsip-Prinsip Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka bukanlah orang-orang yang secara tradisional Muslim.

Selandia Baru berada di peringkat 1,
Luksemburg 2,
Irlandia ke-3,
Islandia ke-4,
Finlandia ke-5,
Denmark ke-6
Kanada 7th.
Malaysia 38th,
Kuwait ke-48,
Bahrain ke-64
dan kejutannya
Kerajaan Arab Saudi di peringkat 131.

Penelitian yang dipublikasikan di Global Economy Journal ini mungkin mengejutkan sebagian besar dari kita tetapi ketika kita melihat sekeliling kita dan melihat realitas situasi, kita menemukan bahwa hasil penelitian itu akurat dan benar.

Sebagai muslim kita tampaknya hanya peduli tentang menjalankan kewajiban beragama / ritual / sunnah (doa, puasa, jenggot, celana cingkrang, dll), membaca Al-Qur’an dan Hadits, tetapi kita tidak mempraktekkan apa yang kita dukung dan yakini itu.

Kita mendengarkan pelajaran agama dan khotbah lebih dari orang lain di muka bumi, tetapi kita masih tak kunjung jadi bangsa dan umat yang terbaik di dunia. Dalam 60 tahun terakhir, masing-masing kita umat Islam telah mendengarkan 3.000 khotbah Jumat.

Baca Juga:   Sultan Al Fatih Meninggal Digigit Vampir? Ini Fantasi Menyesatkan Barat

Seorang pedagang Tiongkok pernah berkata: “Pedagang Muslim datang kepada saya dan meminta saya untuk memasang label dan merek internasional palsu pada barang-barang mereka.

Ketika saya mengajak mereka makan, mereka menolak karena makanannya tidak halal. Jadi Halalkah bagi mereka untuk menjual barang palsu?

Seorang Muslim Jepang mengatakan: “Saya melakukan perjalanan ke Barat dan melihat Islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari non-Muslim. Saya melakukan perjalanan ke Timur, saya melihat Islam tetapi tidak melihat seorang Muslim. Saya bersyukur kepada Allah saya tahu Islam sebelum saya tahu bagaimana Muslim bertindak.

Agama tidak harus dikerdilkan menjadi hanya sholat, doa dan puasa. Islam (harusnya) adalah cara hidup dan ini tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Silahkan melakukan kewajiban agama terserah Anda dan itu adalah sesuatu antara Anda dengan Allah. Namun, etika yang baik adalah sesuatu antara Anda dengan orang lain.

Dengan kata lain, jika kita tidak menempatkan etika Islam dalam tindakan dan praktik, korupsi akan menjadi merajalela dan aib akan menjadi masa depan kita.

Baca Juga:   Belajar Dari Pilpres Amerika: Donald Trump Menang karena Suara Golput 43,2 Persen

Kita seharusnya tidak menilai seseorang berdasarkan bagaimana dia melakukan ritual agama karena bisa saja dia mungkin seorang munafik.

Nabi Muhammad (saw) berkata: “Sesungguhnya, kebangkrutan bangsaku adalah mereka yang datang pada Hari Kebangkitan dengan doa, puasa dan amal, tetapi juga dengan penghinaan, fitnah, mendewa-dewakan kekayaan, menumpahkan darah dan memukuli (menyebabkan penderitaan bagi) orang lain.”

Benarlah bahwa Islam (aspek eksternal iman) tidak lengkap tanpa Imaan (aspek internal iman) dan Ihsaan (aspek sosial iman). Renungkan, pahami dan sadari ini.

Lord Bernard Shaw pernah berkata: “Islam adalah agama terbaik dan umat Islam adalah pengikut terburuk.”*

Mau sampai kapan? Haruskah diri kita pun tetap seperti itu dan terus sibuk berkilah sampai saat kita meninggal nanti?

SHARE
Previous articlePuisi Rindu untuk Ibu Tercinta
Next articlePermainan Ibu Guru
Direktur Eksekutif Lembaga Manajemen LP2U yang bergerak di bidang pemberdayaan manusia (Human Resources). Selain sebagai widyaiswara di Kementerian Keuangan dan Dosen STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), aktivitas ayah dari enam orang anak ini juga menjadi trainer pelatihan tentang manajemen dan kepemimpinan dengan lebih dari 3000 jam pelatihan, penceramah dan pembicara di berbagai seminar. Peraih gelar Magister Manajemen (MM) dan Master of Bussiness Administration (MBA) ini aktif di berbagai kegiatan dan organisasi Islam sejak mahasiswa tahun pertama. Aktif membina berbagai halaqoh sejak 1988. Selain buku 'Burn Yourself', buku yang telah dihasilkan antara lain: serial Manajemen Haraki, 77 Problematika Aktual Halaqoh I, Breaking The Time, Murobbi Sukses, Kreatifitas Plus dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here