Home Gontor Kisah KH. Imam Syubani, Pemegang Kunci Emas Kemajuan Bahasa Arab di Gontor

Kisah KH. Imam Syubani, Pemegang Kunci Emas Kemajuan Bahasa Arab di Gontor

339
0
SHARE

Mungkin beliau tergolong wali, atau setidaknya sufi. Kekayaan ilmunya jauh membuat beliau lebih tenteram daripada banyak uang. Jariyah ilmu itupun tak alang kepalang banyaknya; mengalir jauh, hingga ke penjuru dunia. Buku-buku pengajaran Bahasa Arab yang disusunnya bersama KH. Imam Zarkasyi cukup menjadi saksi jariyah itu. Puluhan ribu pemuda Islam telah terbebas dari buta bahasa Arab, atas jasa beliau. Bahkan, hingga ke akhir hayatnya, curahan pikiran beliau hanya kepada Bahasa Arab. Itu yang ditunjukkan beliau setiap kali penulis sowan ke rumahnya. Saya sering bermimpi bertemu Pak Zar. Dalam mimpi itu, beliau selalu menanyakan, Pak Bani, bagaimana Bahasa Arabnya? Itu yang selalu ditanyakan Pak Zar, kisahnya hampir setiap kali pertemuan.

Beberapa tahun ini, terdengar beberapa kali beliau masuk rumah sakit, namun kemudian sembuh. Hanya, Jumat pagi itu, tiba-tiba saja ada kabar beliau wafat. Inna lilahi wa inna ilaihi rajiun. Kami pun takziyah di rumahnya yang sangat-sangat sederhana untuk ukuran manusia sekaliber beliau. Di dinding rumah beliau terpampang foto beliau bersama Menteri Agama, M. Maftuh Basyuni, yang mampir sowan, usai menghadiri munasabah di Gontor. Dalam kesempatan yang lain sebelumnya, Ust. Abu Bakar Baasyir, tokoh internasional yang diteroriskan oleh AS itu, pernah menyempatkan diri mampir ke rumah itu, sebagai tazhim kepada gurunya semasa di Gontor dulu. Sungguh, sebuah rumah sederhana yang penuh barakah.

Ustadz Imam Syubani adalah orang yang pantang menerima sesuatu yang beliau anggap bukan haknya. Sebagai guru PM Gontor, setiap bulan, beliau mendapat hantaran sembako, seperti beras, kopi, teh, gula, minyak dsb. Suatu ketika, karena alasan kesehatan, beliau memutuskan untuk berhenti mengajar di Gontor. Dalam pandangan beliau, konsekuensi dari itu, jatah sembako pemberian pondok tadi juga harus diakhiri, dihentikan. Beliau tidak mau makan gaji buta. Padahal, apa yang diberikan pondok itu adalah penghormatan atas jasa beliau sebagai anshar pondok selama ini. Tapi itulah, beliau bergeming.

Dulu sekali pun, pertengahan dekade 1980-an, KH. Imam Zarkasyi orang yang paling ditaati dan dihormatinya menyarankan supaya Ust. Syubani menjalani operasi katarak (operasi mata). Awalnya beliau tidak mau, dengan pertimbangan, uangnya dari mana? Kecuali itu, Pak Zar saja juga tidak operasi katarak, kok malah dirinya yang disuruh. Maka Pak Zar pun mengatakan. Saya yang mbayari, tapi Pak Bani dulu (yang operasi). Kalau sudah berhasil, setelah itu baru saya. Maka operasi pun terlaksana. Namun, setelah itu, KH. Imam Zarkasyi batal menjalani operasi katarak karena keburu wafat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here