Home Opini Mengembalikan “Khittah” kalimat Takbir

Mengembalikan “Khittah” kalimat Takbir

SHARE

Sebuah liputan mengerikan tersaji di televise. Dia kelompok masa di Jakarta saling serang dalam sebuah perkelahian massal. Saling lempar batu, bakar rumah, merusak kendaraan, saling ejek, saling hina,- dan ini yang membuat hati saya miris- kedua kelompok itu saling mengucapkan takbir sebelum melakukan semua kerusakan itu.

Di frame berita lain, ada sekelompok masyarakat kecil yang mencuri kayu secara liar di hutan kemudian menolak diteribkan oleh petugas, nampak mengacung-acungkan belati tajam ke arah petugas, sebelum akhirnya juga melakukan peralawan, yang lagi-lagi mereka mulai dengan bacaan takbir. Sama persis dengan ribuan masyarakat lain yang protes hasil pilkada dengan merusak fasilitas umum, atau sebagian umat yang membakar masjid kelompok lain yang “berbeda” dengan mereka, kesemuanya nyaris sama, meneriakkan kalimat takbir sebagai kalimat pembuka sebuah perlawanan.

Takbir menjadi sebuah legeitimasi semangat yang “diridhoi” oleh Allah. Takbir menjadi sebuah pembeda, seakan-akan bahwa kami yang bertakbir telah mendapat restu dari Allah untuk menyerang anda. Kami adalah orang terpilih, yang berhak melakukan apa saja, karena kami bertakbir, dan Allah bersama kami!!

Para pembaca,

Memang tidak salah meneriakkan takbir sebagai pelecut semangat sebelum melakukan sebuah pekerjaan. Dulu-pun Rasulullah dan para sahabat juga senantiasa meneriakkan takbir sebelum maju ke medan pertempuran. Tapi, memaknai kalimat takbir dengan hanya menempatkanya sekedar pembakar semangat saja, jelas sebuah pengertian yang kurang tepat. Bahkan jauh dari makna kalimat Takbir itu sendiri yang sesungguhnya begitu mulya.

TAKBIR, secara makna adalah “membesarkan”. Dimana secara syariat ialah bacaan yang membesarkan nama Allah (Allahu Akbar). Inilah inti ajarannya. Bacaan takbir mengajarkan kita untuk meletakkan Allah sebagai dzat yang “superlative”, maha besar, maha kuasa, di atas segala-galanya. Itulah kenapa Takbir dijadikan pengunci awal dalam sholat kita. Disebut “Takbiratul Ihram” karena takbir tersebuat merupakan kunci untuk mengharamkan segala kegiatan dan tindakan serta bacaan selain daripada gerakan dan bacaan sholat. Dan secara implicit, mengharamkan segala fikiran dan konsentrasi kepada selain Allah. Ya, karena ikrar kita telah terucap, bahwa hanya Allah yang maha besar. Segala urusan keduniaan, segala masalah pribadi, segala kesombongan manusiawi seharusnya runtuh seiring dengan di bacanya takbiratul ihram.

Baca Juga:   Indonesia dan Budaya Riset

Maka membaca Takbir pada sisi yang lain adalah “TASHGHIRU MAN SIWA ALLAH” atau mengecilkan segala hal selain Allah. Termasuk diri sendiri. Membaca Takbir adalah sebauh penyataan tentang kelemahan diri dihadapan Allah. Sebuah pernyataan bahwa kita hanyalah makhluk yang sangat amat “tidak berguna” sebelum di sempurnakan penciptaannya oleh Allah. Tercipta dari setets air hina, yang kemduian ditempatkan oelh Allah dalam sebuah “Inkubator” tercanggih dan terkokoh yang tiada bandingannya di seantero mayapada ini, yaitu rahim ibu kita. Yang kemduian ditiupkan Ruh kepada kita dan diberikan segala kesempurnaan bentuk yang luar biasa indahnya. Barulah kemudian kita terlahir di dunia, tanpa kita bisa memilih dari rahim siapa kita dilahirkan. Tapi Allah tetap menyayangi kita dengan memberikan insting dan naluri untuk hidup dan mengembangkan diri. Serta diberikan pula akal budi untuk bisa hidup lebih baik dari semabrang mahkluk lain.

Dan kalau melihat sejarah penciptaan kita di bumi ini. Dan dengan segala nikmat yang Allah tumpahkan kepada kita sepanjang hayat ini. Bukankah terlalu pantas kita bertakbir kepada Allah dengan segala kesempurnaanya?? Dan dengan melihat kebesaran Allah dengan segala kesempurnaan ketentuannya, lalu apa hak kita menghina dan menjelek-jelekkan ciptaan Allah yang lain? Apalagi samapi menyerang, melenyapkan, membakar, menghujat, menyakiti, dan merusak?? Sungguh sediktpun kita tidak kuasa untuk mencipta, kita hanya mampu sombong dan lalu kemudian merusakknya…
Pembaca yang budiman..

Takbir juga sesungguhnya, mengajarkan kepada kita untuk percaya diri. Sebab kita meyakini, kalau tidak ada yang perlu ditakuti di dunia ini selain Allah dengan segala ke-Maha kuasaan-Nya yang mutlak. Yang terjadi adalah apa yang dikehendaki Allah, maka selama niat kita dan tujuan kita adalah untuk Allah, maka percaya diri saja, tak perlu takut atau minder dengan siapapun. Inilah yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabat sebelum terjun ke medan juang. Rasulullah meneguhkan niat para sahabat, bahwa kalau Allah berkehendak, maka pasukan kecil-pun bisa mengalahkan tentara yang lebih besar jumlahnya.

Baca Juga:   Konsep Modal Ventura Dalam Keuangan Islam

Keyakinan inilah yang melumuri dada setiap pejuang muslim menghadapi musuh-musuh Allah. Dan keyakinan ini pula yang membuat para sahabat pejuang itu menyadari sepenuhnya, bahwa tujuan pertempuran ini adalah melaksanakan perintah Allah, bukan untuk kepentingan pribadi, membela organisasinya sehingga menyerang ormas lain, bukan pula untuk kepentingan dunia sesaat yang semu, apalagi untuk mengumbar emosi dan angkara murka semata. Bukan, sama sekali bukan itu. Kalimat Takbir-lah yang membimbing mereka untuk sepenuhnya sadar, niat utama perjuangan ini adalah meninggikan asma Allah di muka bumi

Kisah ini mungkin bisa dijadikan missal buat kita semua…

Suatu hari disebuah pertempuran yang berkecamuk. Imam Ali RA dengan pedang bermata duanya yang fenomenal, Zulfikar. Mengamuk laksana singa di padang pasir. Sayatan pedanganya entah sudah berapa kali melukai dan menewaskan pasukan kafir di medan perang itu. Sampai suatu kali beliau terlibat pertempuran sengit dengan salah satu tentara kafir itu. Cukup tangguh rupanya lawan yang kali ini di hadipi oleh Imam Alie RA, sehingga bahkan beliau sempat terjatuh dari kudanya.

Dalam kondisi belum pulih dari jatuhnya. Tentara kafir itu tiba-tiba mendatangi sayidina Ali dengan kudanya lalu mengayunkan pedangnya kuat-kuat kearah beliau. Sontak beliau terkejut lalu menangkis serangan itu dengan pedangnya. Begitu kuatnya tebasan pedang tentara kafir itu sehingga membuat pedang beliau terlontar jatuh. Jadilah beliau bertempur dengantangan kosong.

Tapi sebagai pemuda suku Quraish, beliau jelas terlatih untuk bertempur dalam segala suasana. Dengan perhitungan yang matang. Beliau tubruk tentara kafir itu, sehingga ganti dia yang terjatuh dari kudanya. Keduanya lalu berguling-guling ditanah sebelum akhirnya sayidina Alie berhasil membanting tentara kafir itu ke tanah, lalu kemudian mengambil pisau kecil dibalik pinggagnya untuk diarahkan tepat ke jantungnya. Tentara Kafir itu pucat pasi, dia tahu bahwa ajalnya sebentar lagi akan tiba. Sekonyong-konyong ketika pisau sayidina ali sudah berjarak bebrapa centi dari jantungnya. Tentara kafir itu lalu meludah tepat di muka sayyidina Ali.

Baca Juga:   Belajar Bersyukur Dari "De Orange"

Merah padam muka Sayidina Ali diperlakukan seperti itu. Bergetar tangan beliau menahan amarah yang memuncak. Dan sikafirpun bukan tidak tahu, bahwa dengan kelakuannya itu, nyawanya pasti tidak terampuni lagi. Dia pun pasrah menunggu ajalnya.

Namun ternyata, sayidina Ali malah membuang pisaunya jauh-jauh. Melepaskan cengkramannya dan mebiarkan tentara kafir itu bangkit. Tak habis fikir tentara kafir itu melihatnya….kemudian dia bertanya :

“Kenapa kau tak jadi membunuhku?? Bukankah mudah bagimu untuk menghabisiku tadi??”

“Ya tentu sangat mudah bagiku untuk membunuhmu tadi, dan aku sudah berniat untuk melakukkanya sejak semula…” Jawab Imam Ali

“Lalu kenapa kau justrun membebaskanku?”

“Karena ketika awal aku hendak membunuhmu, niatku ikhlas karena Allah, tapi begitu kau meludahi wajahku, maka aku marah, sehingga kalau aku membunuhmu, maka itu bukan karena Allah, tapi karena aku emosi…maka pergilah, mungkin kita akan bertemu di lain pertempuran…”

Sahabat..

Itulah bukti imam Ali telah bertakbir. Mengagungkan Allah. Meluruskan niat bahwa tujuan perjuangan ini adalah untuk Allah. Bukan untuk hal-hal keduaniaan, apalagi menuruti nafsu marahnya. Ma Nowaka patut kita pertanyakan, apakah Takbir yang diucapkan saudara-saudara kita yang saling bertikai seperti yang saya ceritakan diawal adalah Takbir yang meluruskan niat, atau malah menurut hawa nafsu.

Apakah tindakan mereka membakar rumah, membakar mobil, merusak jalan, memukuli sudara seiman, adalah tindakan yang berdasarkan niat untuk mencari ridho Allah?? Apakah segala ucapan yang merendahkan, menghina, menghujat, dan mencaci maki saudara sendiri itu adalah sebuah tindakan yang boleh dilakukan setelah membaca Takbir? Dimana seharusnya kita
Mengagungkan Allah dan meletakkan diri kita sebagai makhluk-Nya yang tak berdaya, sama dengan makhluk Allah yang lain??

Kalau saja ke Agungan Allah dengan segala sifat rahman dan rahim-Nya belum tersaji dihati kita ketika mengucapkan kalimat Takbir, lalu kemana hati kita setiap kali sholat dan menyebutkannya begitu sering?? Maka sebuah pertanyaan kepada diri pribadi menggantung di relung qalbu…Sudahkah kita bertakbir???

Walllahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here