SHARE

Suatu hari, Rasulullah keluar rumah, memakai rida’ baru, sangat indah, semua Sahabat yang melihat merasa takjub. Salah seorang Sahabat yang terkenal konglomerat di kalangan penduduk Madinah, Abdurrahman bin Auf melihat rida yang dipakai Rasulullah. Beliau langsung “menyamperin” Rasulullah dan mengatakan, “indah sekali rida’mu itu ya Rasulullah, aku ingin rida itu”.

“Kamu suka rida ini wahai Abdurrahman? ambillah, ini untukmu.” Rasulullah langsung memberikan rida itu, dan kembali ke rumahnya memakai rida lamanya, yang dihiasi beberapa tempelan, bekas sobekan. Para Sahabat yang melihat itu berkata kepada Abdurrahman,

“Astaga, teganya kamu meminta rida Rasul, kamu kan orang kaya, bisa beli sendiri,” kata salah satu Sahabat. Yang lain menimpali,

“Ya, kamu kan tahu, kalau Rasulullah itu tidak pernah menolak permintaan siapapun, lagian Rasulullah kan jarang-jarang pakai pakaian bagus, biarin lah sekali-sekali beliau pakai pakaian bagus.”

Sambil meneteskan air mata, Abdurrahman menjawab, “Demi Allah, aku tidak memintanya karena aku suka, aku ingin besok kalau aku mati, aku  bisa dikafani dengan pakaian Rasulullah, itu saja”.

Banyak cerita tentang orang-orang shaleh ingat pada mati dan bagaimana mereka mempersiapkan hari itu, mereka mempersiapkan hari itu seperti mereka mempersiapkan “malam pertama”, mereka selalu berusaha menjadikan “hari kematian” yang akan datang itu indah dan “ngangenin” seperti mereka rindu pada “malam pertama”.

Pernah sekali aku melihat jamaah haji yang bertawaf memakai kain kafan, kain ihrmanya dari bahan kafan, biasanya kan agak lebih tebal. Waktu ku tanya, katanya sengaja dipakai kain kafan, biar besok kalau dia meninggal kain ihram ini menjadi kafannya dan kain itu akan jadi saksi kelak di Akhirat kalau setiap tetes keringat di arafah itu berzikir menyebut asma-Nya, setiap debu yang menempel disitu menjadi saksi kalau pada hari itu dia benar-benar menjadi hamba paling hina diantara 2 juta hamba-hamba yang berihram, semoga itu semua menjadi amalan yang bisa membuat dia nyaman di padang mahsyar, dimana matahari sejengkal di atas kepala, sambil ngantri menerima rapor, yang menentukan nasib selanjutnya…Surga atau Neraka!

Ada lagi yang sengaja membeli kain kafan dan dipakai sebagai sajadah untuk qiyamul lail, sehingga setiap kali sujud dia akan ingat mati. Setiap tetesan air mata yang jatuh menjadi saksi dimana dia malam-malam bermunajat meminta ampun, di saat manusia sedang nyenyak terbuai di lautan mimpi.

Yakinlah, setiap kali kita menangis pada sepertiga malam terakhir, dosa kita akan menetes jatuh bersama setiap tetesan air mata itu. Makanya para ulama selalu berdoa, “Ya allah, anugerahilah aku ilmu yang banyak, hati yang khusyu, mata yang bisa mengalirkan air mata saat bersujud, dan rezeki yang berkah”.

Ingat, mereka minta ilmu yang banyak, karena ilmu apapun yang kita miliki akan memberi kita nilai plus, apapun ilmu itu. Tapi kalau rezeki mereka minta yang “berkah”, bukan banyak. Karena kalau rezeki berkah, sedikitpun akan mencukupi, kalau banyak tapi nggak berkah, nggak ada gunanya, kita tidak sadar rezeki datang dari mana dan hilang kemana. Tapi, bagusnya minta “rizqan katsiran mubarakan”, rezeki yang banyak dan penuh berkah.
Pernah dengar kebengisan Firaun kan? pernah tahu kehebatan Alexander The Great kan? tahu Marco Polo juga ya? pastinya kenal sama Cleopatra kan, yang katanya kecantikannya bisa membuat Julius Caesar mabuk dan panglimanya Mark Anthony klepek-klepek? Dimana mereka sekarang? Semuanya tinggal cerita, mereka mati berkalang tanah.

Dalam surat Al mukminun ayat 15, Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati”. Siapa yang tidak percaya kalau dia akan mati? Cuma nggak tahu saja kapan hari itu datang, tapi pasti. Bisa jadi sedetik setelah kita baca ini, bisa jadi 100 tahun lagi! Itu rahasia Tuhan, sebuah kenyataan yang jarang diingat.

Suatu hari ada orang meninggal, berita itu sampai ke Amirul Mukminin Umar bin Khattab, “Ya amirul mukminin, si Fulan telah meninggal”. Dengan meneteskan air mata beliau berkata, “Hari ini si Fulan telah meninggal, suatu hari orang-orang akan mengatakan ‘Umar telah meninggal’….”. Suatu hari kalian juga akan mendengar atau membaca orang mengatakan “Saief Alemdar sudah meninggal”. Semoga kita dianugerahi husnul khatimah, bisa meninggal dalam keadaan beriman pada Allah.

Kalau ada yang share berita orang meninggal sedang sujud, sednag shalat, atau sedang berbuat amalan shaleh lainnya, kita pasti suka. Suka saja tidak cukup, yang perlu kita ingat adalah final orang itu sambil sujud, sambil baca quran, sambil shalat, bukan hal yang tiba-tiba datang, tapi itu kebiasaan. Mereka membiasakan diri shalat, baca quran, jadi wajar kalau hidupnya berakhir seperti itu. Bagi yang kebiasaannya aneh-aneh, ya mungkin kelak ketika final juga aneh-aneh, wal’iyadhubillah.

Pada surat yang sama ayat selanjutnya, Allah berfirman, “Kemudian, sesungguhnya setelah itu kamu sekalan akan dibangkitkan lagi pada hari Kiamat”. Hmmm….ternyata kuburan yang gelap yang ditemani cacing dan ulat itu belum final, kita akan dibangkitkan lagi, kita akan hidup lagi. Menuju kehidupan baru yang kekal, cuma ada 2 pilihan, kekal di Surga bersama kenikmatan yang “tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terbesit dalam benak manusia manapun”, atau kekal dalam Neraka yang level paling dingin adalah “apabila kaki kamu menginjaknya, maka otak di kepalamu akan mendidih”.

Kalau kita percaya bahwa dunia hanya ladang untuk akhirat, maka kita menghadap dunia cuma sekali, yaitu saat kita keluar dari dunia rahim menuju dunia sekarang ini, setelah itu otomatis kita membelakangi dunia ini dan berjalan menuju dunia kubur dan kemudian dunia akhirat. Setiap detik waktu berjalan, kita semakin mendekati tujuan. Nikmatilah perjalanan itu dengan mengumpulkan harta, popularitas dan jabatan untuk kita olah itu semua dalam “mesin keikhlasan” dan “mesin ubudiyyah” sehingga produknya besok akan menjadi amal shaleh, yang akan menjadi “partner” di alam kubur menuju alam akhirat.

Itu sebabnya, orang-orang shaleh yang ingat mati selalu menyiapkan diri untuk hari itu, karena dia menganggap hari itu adalah saat yang berkali-kali lebih istimewa dari “malam pertama”, sehingga persiapannya juga harus ekstra. Kalau persiapan untuk “malam pertama” begitu perfect dan fixed biar tidak mengecewakan, maka untuk menghadapi yang lebih istimewa dari malam pertama, harus berkali-kali lebih perfect dan lebih fixed, biar nggak kecewa dan menyesal, karena kalau sampai kecewa dan menyesal, nggak bakalan bisa diperbaiki lagi.

Kalau ada kenyataan yang sering dilupakan itulah dia kematian, sebuah kenyataan yang setiap hari disaksikan, tetapi tetap saja dilupakan. Rasulullah mengajarkan kita biar kita tidak melupakan kenyataan itu dalam sabda beliau, “Dulu aku pernah melarang kalian ziarah kubur, sekarang ziarahilah, karena ziarah kubur itu akan mengingatkan kalian pada kematian….”.

Ziarah kubur akan melunakkan hati, ziarah kubur akan mengingatkan mati, hari ini si Fulan dalam kubur, besok mungkin kita di sampingnya. Kalau ziarah kubur jangan cuma buat poto-poto dan bernarsis-ria, apalagi buat nangis-nangis disitu. Bukan itu tujuannya ziarah kubur. Kita kesana, mendoakan orang-orang yang sudah mendahului kita dan kita siap-siap ikut menyusul. Sudah siapkah kita nyusul?

Kalau ditanya siap, ya nggak bakalan siap! Makanya mumpung sekarang masih sehat, masih waras, masih bernafas, siapkan diri seperfect mungkin untuk hari itu, jadi kapanpun dia datang, kita siap. Makanya Rasulullah menyuruh kita berniat waktu mau sholat bahwa inilah shalat terakhirku, karena bisa jadi setelah ini aku mati, jadi harus kulakukan seperfect dan sekhusyu’ mungkin.

Ide bagus kalau mau beli kain kafan, dan dipakai untuk sajadah pada shalat malam. Tapi jangan digantung sembarangan, kasihan yang lihat, dikiranya pocong pula nanti.

Syarat mati itu tidak harus sakit atau tua, orang yang meninggal hari ini, kemarin dia masih seperti kita sekarang. [Saief Alemdar]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY