Home Alquran dan Hadist Benarkah Hadist yang Ditulis 200 Tahun Setelah Nabi Tidak Berlaku Seperti Kata...

Benarkah Hadist yang Ditulis 200 Tahun Setelah Nabi Tidak Berlaku Seperti Kata Abu Janda

SHARE

Ungkapan Abu Janda di ILC kemarin yang meragukan keotentikan berbagai Hadis karena Hadis mulai ditulis 200 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, bisa dikatakan ungkapan standar yang sering kita dengar. Bahkan pak Mahfudz sendiri mengamini hal tersebut, memang pak Mahfudz bukan ulama hadis, tetapi untuk mengetahui sejarah penulisan hadis kan tidak perlu menjadi ulama seperti sheikh Nashiruddin Al Albany atau sheikh Abdul Fattah Abu Ghuddah. Nevertheless, paparan pak Mahfudz yang “menghajar” semua pihak dengan gaya intelektual sangat luar biasa, berbobot dan bernas, bukan sekedar ngomong, tapi memang paham apa yang diomongin.

Informasi seperti itu memang standar, mungkin bisa didapatkan dalan buku-buku atau dalam kuliah-kuliah. Orang hanya sekedar bicara, tidak pernah mau meneliti kebenarannya. Karena sering disebut “Hadis mulai ditulis 200 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad”, akhirnya alam bawah sadar kita menerima saja. A lie told often enough becomes the truth, kan begitu istilahnya “illusion truth”.

Kesalahan itu bermula ketika tidak bisa membedakan istilah “Kitabatul Hadis” dengan “Tadwinul Hadis” yang sering disebut dalam buku-buku sejarah.

Baca Juga:   Kebiadaban PKI: Pesantren Dilumpuhkan, Kiai Dibantai, Masjid Dibakar

Berbagai referensi menunjukkan bahwa penulisan hadis sudah dimulai sejak Rasulullah masih hidup, penulisan dalam artian “ditulis, dicatat” di kertas atau di pelepah kayu dan lain-lain. Bukti nyata adalah surat yang dikirim Rasulullah kepada Raja Romawi dan Persia serta raja-raja lainnya mengajak mereka masuk Islam. Selain itu, banyak riwayat menyebutkan bahwa Abdullah bin Amru bin Ash selalu menulis apa yang didengarnya dari Nabi, Sidna Ali bin Abi Talib juga memiliki “suhuf” sendiri, yang berisi catatan hadis yang beliau dengar dari Nabi. Dan salah seorang yang paling banyak menulis sejak awal adalah Hammam bin Munabbih. Artinya, ungkapan “hadis ditulis setelah 200 tahun wafatnya Nabi” tidak akurat.

Tahun 99 Hijriah, ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah di Damascus, beliau menyuruh Gubernur Madinah saat ini Abu Bakr ben Hazem untuk mengumpulkan hadis-hadis yang ada di Madinah dalam tulisan, khususnya yang ada pada Amra ben Abdurrahman dan Qasem ben Muhammad Abu Bakr. Salah satu yang banyak memiliki koleksi hafalan dan tulisan hadis saat itu adalah Imam Muhammad bin Muslim bin Shihab Zuhri, yang dikatakan oleh Imam Muslim “Terdapat sekitar 90 hadis hanya dihafal oleh Ibn Shihab Zuhri saja di muka bumi pada saat itu!” (124 H).

Baca Juga:   Senyuman Dibalik Pembantaian 300 Ribu Muslim Bosnia

Kemudian, penulisan secara massif terjadi dimana-mana, di Mekkah Imam Ibnu Juraij (150 H); di Madinah ada Imam Saied bin Urubah (157 H) dan Imam Malik (179 H); di Basrah ada Imam Hamd bin Salamah (167 H); di Kufah ada Imam Sofyan Thouri (161 H); di Sham ada Imam Auzai (157 H); di Khorasan ada Imam Ben Mubarak (171 H); di Yaman ada Imam Ma’mar (154 H); di Mesir ada Imam Laits bin Saad (175).

Mereka semua mengumpulkan dan menulis hadis-hadis Rasulullah, ya memang metode pengumpulannya bukan seperti metode Musnad atau Sunan, tetapi setidaknya mereka sudah menulis dan mencatatnya sejak awal, let’s say Imam Malik lahir tahun 93 H dan meninggal tahun 179 H, artinya antara tahun 120-179 sudah ada sebuah penulisan dan pencatatan hadis. Dimana 200 tahun setelah wafat Nabi?

Hal seperti ini sudah diwarning oleh Imam Abdullah ben Mubarak sejak lebih dari 1250 tahun lalu ketika beliau mengatakan “Al isnad minaddin, lau lal isnad laqaala man syaa ma syaa!”

Baca Juga:   Inilah Sejarah Pengkhianatan PKI yang Tidak Boleh Dilupakan Bangsa Indonesia

Kalau mau cerita bagaimana metode penelitian keotentikan narasi Hadis, belajar! baca! jangan nangkringin internet!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here